Senin, 09 April 2012 - 0 komentar

Untuk "Sahabat Tukang Kebun"



Sekilas terlintas dalam renunganku, sebuah roda sepeda yang beputar cepat, sepeda yang yang berjalan rapi selayaknya barisan bebek. Melewati jalan aspal, diiringi arus sungai dan pemandangan alam memanjakan mata dengan rintangan berupa tanjakan dan turunan. Senyuman gembira dan tawa bahagia tergores diwajah mereka yang menaiki sepeda, peluh yang mengalir dari dahi mereka tak ubahlah rasa syukur pada yang maha kuasa. Rasa syukur atas persahabatan yang terjalin diantara mereka.
Kisah yang tidak ada kecanggungan didalamnya, semata hanya keikhlasan untuk berbuat dan menggoreskan sebuah makna dalam sejarah prasasti persahabatan mereka. Saat dimana tidak ada beban hidup yang menimpa mereka, saat dimana waktu berkumpul sangatlah lapang, bersama menapaki jalan, menuliskan sebuah cerita dinaskah yang sama, bermain sandiwara dalam satu panggung. Saat itu goresan diwajah mereka tak menunjukan beban, hanya ada kebahagian, sebuah misi selalu menyertai pertemuan mereka, sebuah misi yang mulia yang meringankan beban kawan-kawan mereka.
Inspiratif, inisiatif, kreatif, inovatif, kocak, indah, menarik, eksotis, emosional, luar biasa, itulah yang terjadi saat mereka berkumpul, masalahpun jadi ringan, sebab tiap personal dari mereka memiliki kemampuan dan karakter yang berbeda, mungkin hal itulah yang membuat kisah ini menjadi berkesan. Sebuah kisah persahabatan “drama tukang kebun” yang melombakan kebunnya namun tak pernah juara. Kisah yang ingin aku tulis untuk mereka yang men-cat bebatuan, yang menanam pohon durian, yang menaiki bukit, dan roda-roda mereka yang berputar menyapa sahabat dihangatnya matahari pagi, sehangat jiwa mereka yang tak bisa merasakan teriknya matahari siang. Sebuah kisah yang tidak terdokumentasi oleh alat buatan manusia, hanya alat buatan tuhan yang mendokumentasikannya, dalam sebuah memori persahabatan dan lilitan kisah batin mereka.

0 komentar:

Posting Komentar